Kamis, 08 September 2016

Syarat membuka makna dibalik kata

Al Ghazali pernah berkata; "Memahami Kalamullah tidak sekedar  memberikan makna secara literal saja melainkan juga perlu menyuguhkan makna dengan melihat kepada sesuatu yang lebih dari dalam dari sekedar memaknai secara tekstual atau dengan kata lain perlu melihat dimensi batin dari al-Quran".

Lain halnya dengan Mulla Sadra, untuk menafsirkan al Quran ada dua tingkatan, yaitu mengunakan gramatika dan sintaksis (lafzi) dan takwil batin bermakna melintasi demarkasi lahir lafaz. pemahaman terhadap Kalamullah tidak mencapai sempurna hanya berkutat pada lafaz-lafaz lahiriyah saja.
selain pendapat di atas, makna lahir dan makna batin, Ali berpendapat ada empat makna, tidak ada ayat al Quran yang tidak memiliki empat makna; makna zahir, makna batin, makna hadd (moral meaning) dan makna matla (anagogical meaning).

Dijelas oleh al Muhasibi, yang dimaksud dengan makna lahir (literal meaning) bacaan al Quran (tilawah), makna batin (the hidden) pemahaman yang mendalam (takwil). Pemaknaan lahir dan batin belum dapat mencapai tingkat hadd (the limit of interpretation). Orang yang mampu mencapai tingkat pemaknaan hadd mereka as saddiqin, yaitu orang sufi yang pandai dan bersungguh-sungguh mampu untuk memasuki makna al Quran secara mendalam.

al Quran tidak hanya mengekspresikan maksudnya melalui redaksi tekstual lafaznya, tetapi dibalik petunjuk lafz terpendam ide-ide yang lebih mendalam, disamping makna material eksoteris masih ada makna spiritual. penafsiran teks secara literal adalah badan akidah, sementara penafsiran yang lebih mendalam menempati posisi sebagai ruh.

Untuk bisa mengetahui makna batin al Quran seorang sufi harus memiliki ilmu batin. ilmu batin dapat diketahui dari hal-hal bagian dalam, seperti pengetahuan suasana hati dan intuisi yang ada di dalam hati. ilmu batin juga dapat dipahami sebagai pengetahuan tersembunyi dari pemahaman mayoritas masyarakat.
Sementara al Ghazali sumber pengetahuan ilmu batin ayaitu ilm al Mukasyafah, ilmu penyingkapan. ilmu mukasyafah adalah jenis ilmu pengetahuan yang diperoleh pewahyuan dan ilmuninasi. dengan ilmu inilah makna tersembunyi ail Quran dapat diungkap.

Sumber Kurdi dkk., 2010, Hermeneutik al Quran dan Hadits, Yogyakarta: elSAQ Press.


Senin, 29 Agustus 2016

Dasein dan Kematian

Manusia menyadari keberadaanya di dunia setelah ia berada di dunia. Manusia tidak memilihnya, tetapi sudah ditetapkan atau ditentukan untuk lahir dan ada. Inilah situasi ada manusia di dunia; sebuah kenyataan keterlemparan faktum (faktisitas keterdamparan) keadanya di dunia ini.

Manusia yang terlempar diliputi kecemasan akan berbagai hal. Ia cemas akan banyak perkara sehingga menyibukkan diri dalam semua hal, ia larut dalam dunia ini. Dengan menggeluti berbagai hal, dengan kesadarannya, manusia mengenal lingkup dunia sarana atau alat-alat. Ia lalu mengenal dunia benda-benda. Manusia yang larut dalam dunia pelan-pelan disadarkan melalui kesibukan dunia benda-benda dan  dunia sarana-sarana.  Dalam menyibukkan diri ke dalam dua lingkup tersebut oleh dorongan ketakutan, manusia diajak untuk kembali ke ada dirinya yang asli. Eksistensi manusia merupakan ada yang langkah demi langkah menuju kematian. Kesadaran ini membuat manusia mengalami ketakutan.

Apabila manusia menyadari keberadaanya di dunia sebagai ada menuju kematian, ia mesti menyongsong realitas di dunia ini. kalau ia menghayati kematian dengan ketegaran, ia akan hidup dengan kesadaran ada menuju kematian itu. Oleh karena itu, hidup inilah yang mesti terus diisi dengan tegar meskipun sadar bahwa akhirnya kemungkinan terakhir hidupnya akan sampai juga. Apabila ia hidup semacam ini, ia hidup secara sejati (Heidegger).


Makna Sebuah Titipan

Seringkali aku berkata ketika orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Mobilku hanya titipannya
Rumahku hanya titipannya
Bahwa hartaku hanya titipannya
Bahwa putraku hanya titipannya
Tapi mengapa aku tak pernah bertanya
Mengapa Dia menitipkan padaku
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku
Dan Kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku
Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Mu
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdo'a, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas
Dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan
Seolah semua derita adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya hanya berjalan seperti matematika
Aku rajin beribadah, maka selayaknya derita menjauh dariku
Dan ni'mat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah Mitra dagang dan bukan Kekasih
Kuminta Dia membalas perlakuan baikku, dan menolak keputusannya yang tak sesuai keinginanku
Gusti...padahal tiap hari kuucapkan hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah
Ketika langit dan bumi bersatu
Bencana dan keberuntungan sama saja
(Puisi gubahan Rendra)

Sabtu, 27 Agustus 2016

Fenomenologi

Ada kebenaran bagi semua manusia, dan manusia dapat mencapai kebenaran itu demikian kata Husserl. akan tetapi Husserl  melihat bahwa dalam filsafat tidak ada kesesuaian dan kesepakatan karena tidak ada metode yang tepat sebagai pegangan yang diandalkan. oleh karena itu, ia merasa perlu mencari dan menciptakan fenomena yang menampakkan diri sesuai dengan realitas yang sesungguhnya tanpa memanipulasinya.

Untuk itu, perhatian harus terpusat pada fenomena itu tanpa praduga apapun. bagi Kant, fenomena adalah suatu yang menunjukkan pada realitas yang tidak dikenal in se (pada dirinya). pada perspektif ini, kesadaran dianggap tertutup dan terisolasi dari realitas. sedangkan maksud Husserl dengan "fenomen" adalah sesuatu yang lain. baginya fenomen adalah realitas sendiri yang tampak. Tidak ada selubung atau tirai yang memisahkan kita dari realitas, realitas itu tampak bagi kita. Husserl sengaja merevolusi filsafat barat. Filsafat Descartes, kesadaran dimengerti sebagai kesadaran tertutup, artinya kesadaran megenal diri sendiri dan hanya melalui jalan itu, mengenal realitas.

Dalam mengembangkan metode fenomenologi Husserl  menyadari betapa suliitnya membiarkan benda-benda itu mengungkapkan hakikat dirinya yang murni, sesuai dnegan realitas yang sesungguhnya. Hakikat fenomena yang sesungguhnya berada di balik yang menampakkan diri itu. Pengamatan pertama belum sanggup membuat fenomena itu mengungkap hakikat dirinya. oleh karena itu, diperlukan pengamatan kedua yang disebut pengamatan intuitif.

Pengamatan intuitif ini harus melalui tiga tahap reduksi atau tiga tahap penyaringan, yaitu reduksi fenomenologis, reduksi editis, dan reduksi transendental. Melalui ketiga tahap reduksi, Husserl berharap akan sanggup membuat fenomena itu mengungkap hakikat dirinya semurni mungkin.