Senin, 29 Agustus 2016

Dasein dan Kematian

Manusia menyadari keberadaanya di dunia setelah ia berada di dunia. Manusia tidak memilihnya, tetapi sudah ditetapkan atau ditentukan untuk lahir dan ada. Inilah situasi ada manusia di dunia; sebuah kenyataan keterlemparan faktum (faktisitas keterdamparan) keadanya di dunia ini.

Manusia yang terlempar diliputi kecemasan akan berbagai hal. Ia cemas akan banyak perkara sehingga menyibukkan diri dalam semua hal, ia larut dalam dunia ini. Dengan menggeluti berbagai hal, dengan kesadarannya, manusia mengenal lingkup dunia sarana atau alat-alat. Ia lalu mengenal dunia benda-benda. Manusia yang larut dalam dunia pelan-pelan disadarkan melalui kesibukan dunia benda-benda dan  dunia sarana-sarana.  Dalam menyibukkan diri ke dalam dua lingkup tersebut oleh dorongan ketakutan, manusia diajak untuk kembali ke ada dirinya yang asli. Eksistensi manusia merupakan ada yang langkah demi langkah menuju kematian. Kesadaran ini membuat manusia mengalami ketakutan.

Apabila manusia menyadari keberadaanya di dunia sebagai ada menuju kematian, ia mesti menyongsong realitas di dunia ini. kalau ia menghayati kematian dengan ketegaran, ia akan hidup dengan kesadaran ada menuju kematian itu. Oleh karena itu, hidup inilah yang mesti terus diisi dengan tegar meskipun sadar bahwa akhirnya kemungkinan terakhir hidupnya akan sampai juga. Apabila ia hidup semacam ini, ia hidup secara sejati (Heidegger).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar