Senin, 29 Agustus 2016

Makna Sebuah Titipan

Seringkali aku berkata ketika orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Mobilku hanya titipannya
Rumahku hanya titipannya
Bahwa hartaku hanya titipannya
Bahwa putraku hanya titipannya
Tapi mengapa aku tak pernah bertanya
Mengapa Dia menitipkan padaku
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku
Dan Kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku
Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Mu
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdo'a, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas
Dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan
Seolah semua derita adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya hanya berjalan seperti matematika
Aku rajin beribadah, maka selayaknya derita menjauh dariku
Dan ni'mat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah Mitra dagang dan bukan Kekasih
Kuminta Dia membalas perlakuan baikku, dan menolak keputusannya yang tak sesuai keinginanku
Gusti...padahal tiap hari kuucapkan hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah
Ketika langit dan bumi bersatu
Bencana dan keberuntungan sama saja
(Puisi gubahan Rendra)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar